Risau

pada lidah hidup
rincus aku melentik
dalam dengus penuh luput
risau seperti lanun
dari hiatus meminta tumbal
mengurut-ngarut kalut
pun jika menetah tunang aku
ke penghujung biduk
surut!

[September 29, 2009 07:35]

Advertisements

Sekali Saja

di hati yang larat
tak kutemukan Kau
hingga rindu berkarat
meruap di tangkai gelap
aku mencariMu di selempang
pertanyaan-pertanyaan berat
gelayut menujah lelah ditingkap
selepas gelegak gelisah lesap
dapatkah sekali saja
kurasa kemuliaan malamMu?

[September 11, 2009 09:02]

Rabb…!

rindu Engkau patah ripuk
air mata kugenggam tiris tak jatuh
khusuk damba rasuk lekuk
pun membuncah ubun-ubun
sebara debur jakun
Rabb…!
jika setumpuk dosa cerah di pelupuk
seperti apa muka hamba bertemu wajahMu?

[September 09, 2009 12:54]

Lepus Hening

pada muku taut sisa ini
harap lekat sudahnya ingin
sebab di dadaku berdesakan
kisah-kisah lampau
kecimpung serupa angin
jadi marilah beringsut
lepus hening
dan bicaralah tenang
dalam gelap lengang
biar kautahu di situ
tersebut namamu diam-diam
hidup kubawa kesiap liang

[Agustus 31, 2009 09:36]

Diammu Tamat

dari bagian tubuhku
yang paling sepi
kuintip diammu menjelma
bulan sabit
terpelanting di pucuk-pucuk kemuning
ranggas acuh pada sunyi
mengerang di ketiak daun
lepas itu angin saja kukunyah
pada benih waktu yang berderap pelan
dan diammu tamat
dalam parasnya yang paling sempurna

[September 05, 11:37]

Sampai Kapan

jiwa ini seumpama kuntum
sudah lama luruh
di hari-hari yang tercantum
manis menghisap kelembak menyan
dari jadwal rapi hidup yang ranum
tenangnya menutup aroma kegelisahan
yang melekat likat menakutkan
mencipta celah dan memar
pada setiap ketidaktepatan pertanyaan
sampai kapan mengapar ini awam?

[September 03, 10:31]