Sampai Kapan

jiwa ini seumpama kuntum
sudah lama luruh
di hari-hari yang tercantum
manis menghisap kelembak menyan
dari jadwal rapi hidup yang ranum
tenangnya menutup aroma kegelisahan
yang melekat likat menakutkan
mencipta celah dan memar
pada setiap ketidaktepatan pertanyaan
sampai kapan mengapar ini awam?

[September 03, 10:31]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s