Enam Kisah tentang Cinta

[1]

mari kukisahkan padamu tentang cinta
kasidah pertemuan serupa
gemuruh sakit jiwa
pada ayat-ayat ganjil
dan makna yang pecah
di pucuk waktu dan ruang!
ya, segala ruang.
segera menjadi tanggal
pada keperihan yang tinggal
sungguh begitu menyiksa
sesak dari semua yang ada
pun saat bebayang hanya semakin
menciptakan jarak pada degup-degup gelap
dan sepi yang mengikat

[2]

meskipun pada akhirnya
kucoba untuk bertahan
perpisahan tetap sempurna
di wujudnya
mengiang-ngiang dalam
jiwa kekeringan
dan penyerahan serupa
pegas yang sia-sia
mungkin tubuh ini meminta pelukmu
mungkin pula karam
bersama air mataku
kurasa mendung telah menjelma
pada penampakan
wajah-wajah sedih dan luka yang membiru

[3]

demikianlah maka
hari-hari berikutnya adalah gelap
merambat ke dalam
mengintai ke kelam
berjuntai-juntai kesakitan
memainkan perasaan
terus menempelkan penampang
perih pada setiap detiknya
apa yang begitu rintih telah
menelusup jauh ke inci
sedikit lagi mencapai inti, ya sedikit lagi.
bila pagi yang jelang
tak kurasakan lagi
itulah saat hati tersilang sendiri

[4]

sampai disitu–kubuka mata pada
sekeliling
tak ada yang bisa dilihat
selain lorong
panjang kabut-kabut putih
menuju batas entah
juga sketsa-sketsa
penyiksaan yang membakar
apapun bentuk pengingkaran! mungkin
sebab yang paling luka
dari sepi telah
beranak pinak dengan namanya sendiri
maka kebencian lalu terkubur pulang
dalam derit peti

[5]

menuju negeri seribu api
aku begitu lesi
sungguh tak ada yang lebih
pilu dari ini bahkan juga sunyi
makhluk bersayap itu tak
kenal kata toleransi
aku sosok mayat yang ditolaki
pun surga begitu jauh
memang penyekutuan adalah dosa
tak terampuni
kecintaan yang sia-sia
tak menghasilkan apa-apa
selain derita menggerundung berkepanjangan
dan duka tak terkatakan

[6]

nun–di padang yang matari hanya
sekilan dari ubun-ubun kasidah ini
berakhir dalam pertemuan kembali aku
dengan bilur-bilur penyesalan bentuk
keliru dalam penyandaran
pernah kubudaki segala
kehendak muskil pada kesadaran
pun ketika tiba saat perhitungan
kudengar gaung sendu memekik
keras hingga jiwaku segaib
sibuk pada cemas harap
cinta (sungguh) akan membawaku pada
binar terakhir sebelum kesekian kali
memutuskan ajal, entah sampai kapan.

[November 24, 2009 07:50]