Episode Tengah Malam

[1]

sementara tanya mulai memberondong. luka
hanya memberi cetakan kosong tentang masa lalu
yang tak mau menunggu. aku tak bisa lebih sabar
pada waktu yang bungkuk sebab tak punya waktu
untuk menunduk, menjauh pada sumbu. kosong
seperti lampu-lampu jalanan di sepasang mataMu.
sempat kutafsir dalam beratus kalimat tapi
aku tak mampu selamat. mungkin terlambat
mungkin pula tak kuat. yang tertabur di sini
tak lebih dari sekadar dusta-dusta berkarat.

[2]

diam seperti selalu punya waktu untuk semakin
mengurung sepi yang gundah tapi tidak untuk
menunggu apalagi mendekapku dalam gairah.
rindu sudah sedemikian meluntur seperti halnya
tanggul-tanggul air mata yang hancur. seakan
penyesalan adalah cara terbaik untuk membentur.
padahal sebentar tadi ada pesan yang datang
lewat denyut tentang retak umur. tetapi
perasaan seolah-olah selalu tak sepadan. saat
tiba waktu untuk segera pulang. menggenapi
kisah tentang manusia yang datang dan hilang.
berulang-ulang.

[3]

dari mana harus mulai bicara. melalui
air mata. atau menunggu hujan di udara.
sebab warna rumput tak cukup menjadi
hela bagi aksara. meski Kau selalu ada. 
aku tak pernah paham perjalanan
menjadi manusia. apakah hidup ada dalam
perjalanan embun yang cuma mampir dan
sepintas? sia-sia meninggalkan bekas.
sedang dalam cermin wajah tergeletak
oleh keinginan-keinginan terkapai kusut
masai. menenggak janji yang retak dan
berpendar-pendar dalam gelas khayal.

[4]

akulah yang selalu bimbang tuanku. termangu
di lantai tumbuh risau diam-diam. apakah
yang rahasia bersusun-susun dari kejauhan
adalah peringatan? mengapa selalu saja berakhir
pada kesepian yang tak pernah berhenti menyindir
di ujung cintaku. kapankah kiranya, tuanku.
di dada ini tenggelam benar-benar persenyawaan
kesadaran yang memecah benih-benih bimbangku.

[5]

bisakah kita duduk bertatapan sampai tak lagi
mengenali deru nafas yang menyemburkan
catatan percintaan. bisakah tuan? bisakah
sebentar saja kau labuhkan suara di telinga
yang tak pernah lagi mendengar suara
urat-urat gemeretak. bisakah tuan? atau
aku harus menggigilkan musim yang
melahirkan tarian saling memandang. agar
aku tak selalu salah menafsir beberapa hal yang
bertengger di urat leher dan sesekali menggenang
di dalam tubuh. memang hulu dan hilir sudah
pasti hanya diriku tetapi benih yang tumbuh
adalah kelahiran yang tak mau berakhir sudah
pasti itu butuh diriMu. sebab aku tak pernah
bisa tuntaskan doa paling merah, tetes darah.
yang rebah, tetap saja tak bisa mengusaikan
persengketaan jiwa yang sudah parah.

[6]

aku sering terlalu lupa. wajahMu di mana-mana.
di gulungan ombak, di kepungan asap. sebut saja.
terlalu sibuk mengagungkan otak yang hanya
cukup dipakai menulis sebagai penundaan upacara
kematian. ada satu keinginan yang kuharap
menjadi celah. lebih dekat meski tak bersebelah.
beratus hari yang kupinjam pada hidup. ada satu
saja yang Kau terima sebagai penutup.

[November 10, 2010 07:51]

Memperbincangkan Kebencian

kami sedang asyik memperbincangkan kebencian,
memperbincangkan warna mata, nanah, dan
tetes darah juga jenis kelamin. bila tak beruntung
kami harus membuat sekumpulan orang percaya
soal perawan, perjaka, atau hewan. di
tengah-tengah hanya ada orang-orang yang tak
pernah berhenti menjadi sentimentil. dua kubu
saling berseberangan masing-masing melempar
kata-kata ke dinding meletus dan mengeringkan
perasaan. kami tak lagi saling mengulurkan
tangan dan lambat laun menggenggam akan
membusuk dalam kenangan. kebencian adalah
mimpi yang diharapkan setiap malam sebab itu
akan membuat kami lebih mudah mencabuti
kehangatan di kepala agar lengkap yang
dinamakan kepunahan dalam perbendaharaan
dan juga ingatan.

[November 08, 2010 12:37]

Suara Derit Pintu

tinggal suara derit pintu, dipermainkan angin
sewaktu-waktu. melengkapi luka kita yang tak
pernah bisa bercerita warna air mata. hujan deras
yang sebentar menawariku sebuah ketakutan.
suara retak yang tiba-tiba menyambar sebuah
ingatan. saat kau berkata udara telah menutup
semua peristiwa. lalu kita bersulang vodka dan
tertawa-tawa. kau kekunang tersayat alurnya dan
aku kupu-kupu yang menabrak kaca di gelas
kedua. serak dan tetap saja tak bisa bercerita
warna air mata. waktu mencuat dan kita lenyap
di antara penampang gelas gambar-gambar ada
dan tiada. ada kepasrahan patah arang dalam
kebisuan panjang. ruang lengang yang mulutnya
terbungkam. berbicara soal luka tak pernah
bisa merumuskan jiwa pada laku hidup dan setia.
meningkatkan isyarat-isyarat tentang jawaban
lengkap yang tak sekadar berakhir dalam suara
derit pintu yang dipermainkan angin sewaktu-waktu.

[November 08, 2010 12:39]

Musim

musim apa sekarang di hatimu bila diam hanya
menawariku sebuah jendela
apakah pintu  sudah pecah dipinang untukmu?
ini perjalanan kesekian yang kusam pada jejak
kita ke mana aku mesti pulang bila ladang semakin
asing bagi dingin tubuhku. tak ada yang bisa
dicatat selain keterasingan yang semakin pekat
pada pertanyaan-pertanyaan selalu berakhir
di lapangan rumput yang sunyi meleleh di pagi
hari setelah semalaman menyatukan diri. memang
ada huruf-huruf yang kutinggalkan dekat perapian
rahasianya menggugurkan daun-daun di hutan
memecah batu menjadi benih di tanah jadi milikmu
itulah perjalananku terakhir pulang melengkapi
upacara musim

[November 08, 2010 12:37]