Sajak-sajak yang Tak

coba rasakan suasananya. kau belum mandi dan
aku ketawa-ketawa sendiri. memikirkan jumlah
wakil menteri, ah………

sayangku, jika cuma andai. aku akan mengajakmu
ke Andalusia. tersesat berdua, dan sepakat
waktu hanya sekumpulan tanda baca.

sudah pasti aku tak akan demikian
keras membuatmu jatuh. aku hanya
akan melakukan hal-hal sederhana
semisal menyentuh.

sesungguhnya yang tahan terhadap
puisi adalah perempuan berhati baja.
sebab itulah kebanyakan dari mereka
baik-baik saja.

meja kursi berbaris lebih patuh
dari tentara. berpasang-pasang
kekasih dari malu-malu sampai
membuka paha. tak mengalihkan
pikiranku.

langit tenang usai hujan. ada bulan, bintang
(yang terpaksa kusebutkan untuk membandingkan)
dengan layang-layang berlampu fosfor di
ketinggian.

sedikit mendung. secangkir kopi
jadi cepat dingin, puisi di koran
tak menarik perhatian. terlempar
aku ke sebuah potret coklat
bergambar dirimu.

aku jatuh cinta bukan melulu
sebab puisi, aku jatuh cinta
oleh sebab yang sampai
sekarang tak bisa didetailkan
para ahli.

sedang sendirian dan diam.
laptop sudah dimatikan
sejak tadi. kepala berputar,
berputar berlawanan arah jarum
jam. Amy tak terdengar lagi.

buku Malna. debur pantai di lagu Kaka.
ampyang jahe yang tak membuat kenyang.
dadaku makin lengang.

atau seandainya kau juga tak percaya
apa yang dikatakan orang.
memilih adil dengan bertanya sendiri,
dan membaca bukti-bukti.

tetapi Thom selalu bisa mengajarkan,
bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan
nikmatnya rasa sakit.

tak ada bir, tak ada sesuatu yang
bisa melengkapkan perayaan. kecuali
denyut yang muntah di bibir.

ada yang kutahan. benar-benar
kutahan, kucukupkan kesakitanku
dengan teriakan Amy… “brokennn”

akhirnya benar bukan, puisi tidak
akan memenangkan hati perempuan. camkan!

[Oktober 28, 2011 13:50]

Advertisements

Sajak dalam Sepotong Pagi

: Disa Tannos

waktu Adjie Massaid meninggal main futsal, aku menjanjikan Angie sebuah sajak. cinta dalam sepotong roti. nyatanya sajaknya tak pernah kelar, dan kulihat dia makin bahagia dengan adik iparnya meski diserang isu korupsi.

waktu Simoncelli meninggal di lintasan, aku terenyuh melihat kekasihnya menangkupkan tangan di pipi. air matanya tetap saja lolos. seperti akan menetes dari televisi. entahlah, mungkin beberapa bulan ke depan tawanya akan kembali.

waktu aku jatuh cinta kepadamu, dan baru saja mendapatkan sajak ini di kamar mandi. aku juga memikirkan sebuah kehilangan yang barangkali juga akan membuat kita baik-baik saja, dengan mengingatnya sampai mati.

[Oktober 25, 2011 06:47]

Puisi-puisi yang Menyusun Sendiri Tempatnya di Laci

laci ke-1

kau yang berangkat tidur. tahukah,
seorang pemimpi. mendoakanmu
dalam sunyi.

laci ke-2

pukul tiga. aku memikirkanmu dengan
tergesa-gesa dalam sajak berbusa-busa.

laci ke-3

puisi yang paling menyentuh adalah memelukmu.

laci ke-4

sebutlah tak punya masa depan.
aku mencukupkannya dengan
kekaguman diam-diam dan memanjang.

laci ke-5

aku ingin memeluk tubuhmu dengan
tubuhku agar kau tak ingat pernah
dipeluk oleh tubuhnya.

laci ke-6

engkaulah baris terakhir. sebuah puisi
yang tinggal bertahun-tahun di kepalaku.

laci ke-7

ada sesuatu ketika menyakiti,
tak mengenal hati-hati.

laci ke-8

sebutir hujan jatuh sebagai sunyi
menikam lantai.
“tess…” berkali-kali tak
mempan-mempan, kesal sendiri.

laci ke-9

selamat pagi penyairku, akan saling
menitipkan apa kita pagi ini?

laci ke-10

mari berhitung; duapuluh, duasatu,
duadua–aduh, apa tahan kau
menghitung denyut cintaku?

laci ke-11

memang tak ada yang perlu engkau
namai, dari sebuah kesalahan yang
aku mulai.

laci ke-12

siapa bilang kelegaan tak bisa menyakitkan?

laci ke-13

beberapa detik tadi, kita sampai
di tempat bernama sakit. mungkin
kakimu menginjaknya lebih dahulu,
tapi hatiku menderita terlebih
dahulu.

laci ke-14

tak akan ada pembelaan. sudah kukatakan
kesalahan adalah milikku. jika saja kau
tak percaya kata-kata yang ini juga.

laci ke-15

ada yang mengetuk-ngetuk pintu.
Adjie dan Simoncelli,rebah dan
menangis. oh juga ada Amy,
datang dengan maskara yang
luntur. kami berpelukan.

laci ke-16

“aku juga memikirkan sebuah kehilangan
yang barangkali juga akan membuat kita
baik-baik saja, dengan mengingatnya
sampai mati.”

laci ke-17

barang kali juga, untuk hal-hal
yang sentimental. kita tak usah
tidur malam ini, diam dan tak
menghitung apa-apa.

laci ke-18

jika kau baca perlahan, sebenarnya
sudah kusiapkan kehilangan.
yang karena sifatnya akhirnya bisa
juga terbaca harapan.

laci ke-19

ada yang datang. ada yang tak
terkejar. ada yang hilang. ada
yang menggelepar.

laci ke-20

sebab puisi, tidak lebih akurat
dari asumsi. ia menyerah ketika
dimasukkan dalam laci. dan
menunggu duapuluh tahun lagi.

laci ke-21

barang kali yang dibisikkan Hawa
itu juga puisi, “aku ingin khuldi.”
barang kali yang didengar Adam itu
juga asumsi, “buah itu enak sekali.

laci ke-22

mari mati, puisi. ada yang
menganggap engkau alat penaklukan.
mari kembali ke rumah tempat
kita menyimpan ketersiksaan.

laci ke-23

tidur, tidurlah, sebab dalam
terpejam. tuduhan bisa terdengar
lebih lembut dari denting piano.
atau petikan gitarmu.

laci ke-24

jika puisi adalah pengadilan,
maka engkau hakim yang kejam.

laci ke-25

terimakasih puisi, maaf aku mencintaimu.

[Oktober 27, 2011 08:29]

Sebuah Pesan Untuk Anak Gadisku

sayangku, jika ada yang datang lelaki dengan kalimat seperti ini:

“kenapa harus menunggu lama, apakah baru berkenalan dua hari dan lalu suka adalah terlalu cepat, benda apa yang dipakai untuk mengukur cepat atau lambatnya, apa patokannya, harusnya berapa lama setelah berkenalan baru boleh suka, siapa yang menetapkan rumus untuk menghitung itu terlalu cepat atau tidak.”

jangan menjadi ragu untuk membatu.

[Oktober 17, 2011 13:47]

Sajak Kesal yang Tak Bisa Dimengerti Pacar

(bersama DisaTannos)

aku mulai sajak ini ketika Presiden sedang dicaci maki sebab mengangkat banyak wakil menteri. nah, aku perlu mengatakannya bukan tak bisa mengingat waktu. tetapi karena harapan bisa menjadikannya alibi ketika kau mendapatkan kalimat-kalimat yang tak kau mengerti.

mungkin tak masuk akal, tapi sesuatu tak perlu sesuai dengan pikiran yang cuma sejengkal. atau, katakanlah aku terlalu sentimental, ketika membayangkan ia menenangkan hati menantunya yang bapaknya dijebloskan ke dalam penjara. “tenang anakku, sebentar lagi ada pembunuhan tingkat dewa, seseorang akan masuk penjara lebih lama dari bapakmu.”

aku mulai sajak ini ketika Presiden sedang di televisi. orang-orang nonton sambil makan kacang goreng dan minum kopi. ada yang mengantuk, tapi kebanyakan merutuk. katakanlah aku terlalu sentimental ketika membayangkan ia dimarahi istrinya karena tak segera membelikan lensa tele yang akan segera dipamerkan kepada ajudan, wartawan dan istri-istri menteri.

aku merutuk saat memulai sajak ini sambil menyaksikan Presiden di televisi. kau terlihat mengantuk dengan kepala tertunduk-tunduk dan mata memejam sesekali. entah karena bicaranya yang terlalu lamban. atau karena aku yang tak kunjung usai mengoceh soal penjara, lensa, dan peristiwa lainnya–deretan kalimat yang kaubilang tak pernah kaumengerti.

ah sayangku, bukan karena bisa mengingat waktu dan merasa mampu menjadikannya alibi. jika aku memutuskan berhenti nyerocos untuk sesuatu kekesalan yang tak akan kunjung kau mengerti. katakanlah, kita berdua tiba-tiba sentimental dengan melakukan hal-hal sederhana yang menyenangkan, seperti menebak berapa berat kantung mata di wajah Presiden, sambil makan kacang goreng dan minum kopi.

[Oktober 19, 2011 18:18]