Perempuan-perempuan yang Sering Disebut Namanya

tentu ada alasannya jika kemudian aku teringat
perempuan-perempuan ini. Mulan Jameela,
Mayang Sari, Sophia latjuba, Kris Dayanti dan
Angel Lelga. tentu ada alasannya jika kemudian
aku mengurutkannya demikian, bukan
semata-mata agar tak inversi atau demi
kepentingan puisi. tetapi agar kau dapat
merasakan kecemasan yang lebih dari sekadar
kurang bahagia dan terlalu banyak
menyimpan syak wasangka.

jadi kekasihku, dengarlah demi anak perempuan
kita. tanamkan di dadanya apa-apa yang tak
ada pada kita, apa-apa yang kita sangka
selama ini baik-baik saja. tanamkan di
dadanya pelajaran setia dan hidup bersahaja.
sebab kelak, barangkali hanya itu
satu-satunya yang akan membuat kita
merasa berhasil dan bahagia. tanamkan
di dadanya nila-nilai persahabatan,
keutuhan, sakitnya pengkhianatan dan
pedihnya ketika ditinggalkan. sebab
kelak, barangkali hanya itu satu-satunya
yang akan membuat kita merasa berhasil
dan bahagia. ketika ia, tak menjadi janda
dan menjadi pembicaraan orang-orang
karena mampu membuang-buang uang untuk
tas seharga lima ratus juta.

[Oktober 20, 2011 18:22]

Advertisements

Aku Meniatkannya Sebagai Doa

: Yang En Mei

awalnya aku bimbang, akan meniatkannya
sebagai apa. sebab aku terlalu abu-abu,
sebab aku terlalu kata-kata. tetapi
(ini bukan tetapi yang seringkali
kupakai sebagai penyesatan seperti yang
pernah kubaca di buku Mantra)
aku memikirkannya sembari menitikkan
air mata–di atas sepeda. dan dengan pasti
meniatkannya sebagai doa, doa lirih kesukaan
Tuhan yang sering dipanjatkan malam-malam.
aku membayangkan kau membacanya di bus
Trans Jakarta, atau di dalam angkot
sembari berkaca-kaca. mengatupkan tangan
dan mulai berpikir aku bisa membuatmu
menangis juga. pada akhirnya, meski untuk
sesuatu yang barangkali masih tak engkau
percaya. “selamat ulang tahun, dilimpahkan
kebaikan”. kukira Tuhan tak akan terlambat
mengabulkannya. sebab aku meniatkannya
sebagai doa (yang meski tak saling menjaga),
cukup untuk disebut berharga.

[November 02, 2011 06:40]

Selamatkan Aku dari Puisi

selamatkan aku dari pagi yang tak bisa mengingatmu. daun jatuh, rinai hujan, kabut dingin, dan tetes embun. tempat-tempat wisata yang gemar mengisapku.

selamatkan aku dari siang yang tak bisa mengingatmu. kopi instan, musik sedih, meja rapi, dan jatah makan. kota-kota runtuh yang gemar menyiksaku.

selamatkan aku dari sore yang tak bisa mengingatmu. aspal hitam, razia polisi, rumah bersih, dan kapal selam. laut-laut dalam yang gemar menelanku.

selamatkan aku dari malam yang tak bisa mengingatmu. derit pintu, mesin cuci, tempat beras, dan lantai dingin. doa-doa sunyi yang gemar meringkusku.

selamatkan aku dari puisi yang tak bisa mengingatmu, bermain-main, dan lupa waktu.

[November 11, 2011 15:30]

Toko Buah

–apel

kulitnya merah gaun.
menipu mataku yang angin.
pecah digoda ingin.
ah, jatuh seperti daun.

–manggis

kulitnya sampul buku.
menarik mataku yang tebal.
pipih diketuk bebal.
ah, sakit semacam candu.

–jeruk

kulitnya debur pantai.
memecah mataku yang diam.
hilang dibawa karam.
ah, sunyi semakin sansai.

[November 08, 14:39]

Kredo Barangkali Puisi

sebelum aku teruskan, sebaiknya engkau pahami terlebih dahulu jika tulisan ini bukan sebuah puisi. sebutlah ini semacam disclaimer, aku hanya ingin memastikan bahwa yang paling puncak dari tulisan ini cuma barangkali, barangkali puisi. seperti yang aku tuliskan di kotak keterangan, “yang menulis barangkali puisi.” jauh sebelum engkau menyebut tidak ada yang bisa dipercaya dari sebuah puisi. (karena itu pulalah ini bisa kupakai untuk berkilah ketika ada pertanyaan dan pernyataan puisi sudah mati). semestinya karena ini barangkali puisi, engkau patut lepas dari rasa tidak percaya, tetapi aku pun tak akan memaksa. untuk sesuatu yang ujungnya cuma bisa kau duga-duga.

sebelum aku teruskan, sebaiknya engkau pahami terlebih dahulu jika tulisan ini bukan sebuah puisi. sebutlah ini semacam disclaimer, aku hanya ingin memastikan bahwa yang paling puncak dari tulisan ini cuma barangkali, barangkali puisi. kredo yang kubuat-buat sendiri. kredo yang teramat jauh dari punya Binhad apalagi Sutardji. hehe… (kata kritikus seharusnya tidak boleh cengengesan, terlihat tidak serius. tapi Tardji memakai haha–dalam puisi. karena ini cuma barangkali, barangkali puisi, maka abaikan saja. kita berhehehehe…). semestinya karena ini barangkali puisi, engkau patut lepas dari rasa sakit hati, tak perlu meminta dihapus, untuk sesuatu yang cuma barangkali, untuk sesuatu yang sifatnya dangkal dan tak pasti, untuk sesuatu yang cuma ratus dan nyanyi sendiri.

[November 04, 2011 07:27]

Al Hambra

“sebab semakin banyak waktu yang kugunakan menikmati kepergian, aku bisa memahami sakitnya kehilangan.”

aku tiba di depan antrian menuju Palacios Nezaras, bagian terpenting Istana Al Hambra di Granada Andalusia, (aku lebih suka menyebutnya begitu daripada Spanyol sebab aku merasa di masa lalu pernah hidup di sini–barangkali aku satu-satunya prajurit Thariq Bin Ziyad yang pengecut dan bertanya-tanya bagaimana cara kembali pulang saat kapal-kapal dibakar). kurang lebih sama pengecutnya dengan pelarianku sekarang. mendramatisir keadaan, dan tak pernah belajar apapun dari kesalahan.

“sebab semakin banyak waktu yang kugunakan menikmati kepergian, aku bisa memahami sakitnya kehilangan.”

aku tiba di depan antrian menuju Palacios Nezaras, bagian terpenting Istana Al Hambra di Granada, Andalusia. yang waktu kunjungannya dibatasi maksimal 30 menit. 30 menit yang sama sekali tak kugunakan untuk menyaksikan ukiran-ukiran dan untaian kaligrafi kelas dunia di setiap sudutnya. 30 menit yang sama sekali tak kugunakan untuk menikmati komposisi taman, air mancur yang indah dan bunga-bunga di sekelilingnya. 30 menit yang sangat lama, air mata jatuh sebab suara sengau yang menyiksa gendang telinga.

“sebab semakin banyak waktu yang kugunakan menikmati kepergian, aku bisa memahami sakitnya kehilangan.”

aku tiba di depan antrian menuju Palacios Nezaras, bagian terpenting Istana Al Hambra di Granada, Andalusia. mengingatmu dalam keterlambatan, mengurai sebab-sebab kenapa gambaranku di sini tak cukup menjadi puisi, sekadar kata-kata melankolis, naif dan tak kunjung usai mengasihani diri. ketika keluar Palacios Nezaras, pemandangan Taman Medina dan Generalife menjadi seperti pidato Thariq.

“tidak ada jalan untuk melarikan diri! lawan di depan kamu, lautan di belakang kamu, silakan pilih mana yang kamu kehendaki.”

[November 01, 2011 23:01]