Kepada yang Entah Namanya

di televisi, Mario Teguh baru saja usai
menerangkan soal cinta. cinta haruslah
memiliki, ia bukan ketersiksaan yang cuma
bisa saling menyakiti. aku menyimak dalam
kesal yang kian samar, kecenderungan yang
tak bisa dimaknai, barangkali karena
membenarkan sekaligus mengingkari.

di kamar, benda-benda lalu bangkit. bergerak
ke arahku, menggencet jalan darah seperti
yang pernah dilakukan sebuah puisi. “di jalan
cinta akan ada peristiwa-peristiwa tentang
keputusasaan, belas kasihan, angan-angan dan
kepastian.” napas terus saja sesak dalam
dadaku yang dijangkiti penyakit aneh.
pertempuran ke pertempuran yang berulang kali
menyerah pada kerelaan tentang tak termasuknya
aku dalam tiga puluh ekor burung
yang sampai tujuan.

di lantai, subuh tadi aku terbaring.
bukan karena semalaman tak bisa tidur
memikirkanmu atau puisi, tetapi
karena doa-doa cuma mengalir di
air mata yang lekas kering.

[Januari 16, 2012 09:15]

Advertisements