Sonet Kecemasan

selalu ada yang timbul tenggelam sampai lemas
lemari buku tak menenteramkan rasa ingin
pengap beranak pinak dan udara makin beringas
kekhawatiran tak menemukan cara lain

tubuh yang bisa menciut karena rasa takut
kehilangan yang dipikirkan secara teliti
darah mengalir sendiri di sela jemari
menetes di lantai keramik putih sebagai maut

dan aku tak bisa membedakan siapa yang muncul
malaikat berwajah dingin atau zombie yang ramah
membimbingku membaca litani

sebab nyatanya di sini kecemasan tetap tumpul
pada getaran bibir, dada, dan tangan tengadah.
dalam doa-doa yang masih sunyi

[Februari 29, 2012 14:07]

Sedikit yang Bisa Dilakukan

sedikit yang bisa dilakukan. pagi ini aku menyeduh kopi sembari memikirkan ke mana puisi. apakah ia dibawa kabur piano di lagu sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa yang dinyanyikan Ugo dengan suara yang sama sekali tak menyerupai suara-suara cengeng tentang cinta yang membusuk di televisi. atau dibawa enam jam kesepian kita setiap pagi. atau dilenyapkan politisi dengan segala rupa kebohongan saat bersaksi. atau barangkali berputar di campuran epigram basi yang tak dibaca baik-baik sebagai penyebab disorientasi. sehingga kepedihan, kesedihan, dan kegetiran menjadi hal biasa yang lazim untuk dikonsumsi. sampai akhirnya pikiranku jadi malas bertanya lagi ke mana puisi. pikiranku menyeberangi jembatan yang kerap jatuh yang tak ada di kartu pos, kalender atau tempat nasi. pikiranku menyelusup di antara lapisan-lapisan dingin yang sukar dipahami.

sedikit yang bisa dilakukan. pagi ini aku memikirkan kekesalan yang tak habis-habis. seperti iblis yang merasakan jantungnya mengembang ketika berhasil menggelincirkan iman yang tipis. kekesalan yang utuhnya melebihi puisi yang dibahas berkali-kali oleh kritikus yang bengis. kekesalan yang teduh dan runcing pada masa silam, masa kini, dan yang tersimpan di masa depan yang dinamis. kekesalan yang konyol dan hangat yang kerap datang dan cepat memudar secara drastis. kekesalan yang suka berbaring dan memejam seluruh matanya ketika putingnya diisap kekasihnya yang masih gadis. kekesalan sebundar setir mobil yang sering dikendarai sambil menangis. kekesalan yang menyerupai tuts piano yang berdenting kala gerimis. kekesalan serutin pekerjaan yang dijalani karena tak mampu membedakan rasa bersyukur dan keterpaksaan yang rumit dan berwajah manis.

sedikit yang bisa dilakukan. pagi ini aku menghitung berapa kali ke kamar mandi dengan wajah masam. aku mulai yakin setiap penyair memang harus menciptakan sebuah dunia bagi puisinya sebagai satu-satunya yang dia miliki selain malam. tempat ia mengasuh kesepian dan kesedihan dengan baik dan dalam. tempat ia berpikir bagaimana cara menyesatkan kata-kata yang lama ia peram. tempat ia mengalahkan segala macam pertanyaan dan kekesalan yang kelam. tempat ia berkilah pada makna yang selalu ditanyakan dengan terburu-buru seperti menyalakan lampu yang cepat padam. tempat ia menyamarkan pesan yang tak utuh kepada kekasihnya yang patuh pada jam tidur agar keesokan harinya tidak terlambat masuk kerja dan terlihat kusam. tempat ia menyerah pada cinta yang tak bisa dikendalikan dan membuat karam. tempat ia mengeluh dan berdoa kepada Tuhan dalam dendam dan diam.

[Februari 23, 2012 09:33]