Matah Ati

: sebelum dan sesudah

kisah yang dahulu ular kemudian
menyusup ke rusukmu telah ditafsir
sebagai pemakluman
“inilah buah dari pohon yang dilarang itu,
makanlah sebuah, hamba makan satu.”

sampai di kemiringan lereng bukit
Rubiyah menemukan cara lain
memecahkan keheningan
“dhuh Pangeran hamba pasrah jiwa raga”
memilih jatuh membantu sebagai
bentuk teguh pada kasmaran
gerak memutar, melingkar-lingkar:
perjuangan dan keprihatinan, asmara
hijau tak terlupakan.
di pundak raja Jawa yang bertuah dan
ujung tombak kesetiaan

kisah yang dahulu ular kemudian
menyusup ke rusukmu juga ditafsir
sebagai kehilangan
“karia mukti kasihku, aku tinggalkan dirimu.”

sebab sejarah tak membuat
kau dan aku betah juga
memegang cinta memeluk punggung terluka
milik kita hanya gelaran yang kian alpa
patah berulang kali di tubuh waktu–
kian luput membaca dirinya, membaca
huruf purba yang ditinggal bunga-bunga.
serat yang berakhir api, pedih
yang didih dan menjalar ke pembuluh
yang tak henti bertanya-tanya.

[Juli 11, 2012 10:10]