Kita Serempak Peluk

semisal sebuah peristiwa yang tak pernah bisa
diduga kedalamannya, kita serempak peluk. begitu
saja saling berdekat-dekat merentangkan lengan
sehingga waktu seakan bersepakat tak mencatat
kemungkinan adanya pemenuhan angan-angan.
saat bertemunya lelaki dewasa dan perempuan
dewasa yang kemudian kerap berbicara perihal
perjalanan terlilitnya perasaan, temberangnya
pengertian. dan menyusunnya pada tempat yang
terlalu samar. di mana kehilangan sering
bunting sesering ia digugurkan. sudah pasti,
seharusnya kita telah selesai, tetapi selain
kepala batu dan hati besi berani, napas kita
pesulap yang amat pandai menarik dan
membuang secara bersamaan soal-soal
menangguhkan dan jawaban-jawaban
meninggalkan. maka tidak heran yang berulang
terasa hadir adalah ketersiksaan oleh
keterikatan begitu membungkam.

[Agustus 30, 2012 10:10]

Advertisements

Di manakah Kita

: dari Goenawan Mohamad dan Afrizal Malna

di pagi yang cemas kau tak akan paham
apa yang terselamatkan dari kabut
sama halnya dengan aku tak tahu apa
yang terkelam dari takut cuma nampak matamu
di sajak dingin ini tenggelam dalam jam pasir
seseorang akan menemukannya sebagai
cinta terakhir sementara aku bersamamu
dalam satu ruang kaca saling menatap tetapi
tidak saling melihat tak lagi tahu siapa
akan pergi lebih cepat melewati sebuah pintu
di mana kita tak lagi saling mencegah meski
dada yang keras selalu terasa akan pecah
di pagi yang cemas kata-kata makin tua
sebab betapa pun ada yang meminta
jangan tinggalkan aku jangan tinggalkan aku
tetap ada yang lebih pandai menyodorkan
pertanyaan, bagaimanakah aku menitipkan
cinta ke dalam tubuhmu ketika segala hal
telah menjadi puisi yang membuat kita berjalan
bersama bayangan sendiri.

“di manakah kita, melihat cinta,
sebagai kehilangan bagi diri sendiri.”

[Agustus 29, 2012 10:25]