Melankoli dalam Komposisi

(bersama Disa Tannos dan Liza Samakoen)

I

inilah awal mula kita saling mengatakan hal-hal
yang bertolak belakang bersamaan: langit aman
tanpa tuhan yang layak dikhawatirkan, cuma
angin dan sekumpulan awan pemandu khayalan.

melakukan ritual melewati kesedihan lebih dalam
dari kehidupan berpasangan. terbang dengan mata
tertutup, jadi keterasingan yang biasa.

tiap-tiap pesta terapung memiliki atapnya sendiri;
resonansi cuaca, kepak sayap 1000 gagak buta,
tabrakan-tabrakan kecil awan mengada, menghindari
kegandrungan sesaat. apa daya, takdir seringkali
bergantung pada hal-hal remeh semacam itu.

II

desember menyusun akhir perjalanan dari empat ratus
tanggal kedinginan dan garis-garis hujan. menyimpan
mereka dalam satu setengah meter persegi sunyi,
menambah riuh kepala penuh berbagai bunyi.

putaran kipas angin. jarum runcing jam dinding.
kaki-kaki berlalu. petir menyambar-nyambar batu. aku
menghitung detik-detik gugur—kehilangan yang
jatuh dengan basah dan teratur.

desember menyusun akhir perjalanan dari empat ratus
malam gigil dan aku. melipat kami seperti halaman
penutup sebuah buku. menyimpannya hati-hati dan
diam-diam di sela rusukmu.

III

yang berselimut. apa yang lumpuh dari diam tak sanggup
dan puisi gugup. apa yang utuh dari cemas andam seluruh.
jika bisik doa dan bising prasangka menjadi kemungkinan
tak bisa hidup. dinginkah menggigil saban malam atas ruh.

yang berikut. apa yang berloncatan dari pemberontakan dan
keseimbangan. apa yang ganih dari gelisah jadi benih. pada
sela usia dan selama rahasia hanya amsal akhir pertobatan.
panas itukah memanggil jatuh pada lubuk paling pedih.

yang menjemput. menghantarkan seuntai alpa pada maut.
awal kelonggaran hubungan sedu sedan manusia. 14 abad
dalam bahasa. “seandainya kalian mengetahui yang aku
ketahui, niscaya sedikit tertawa dan banyak menangis.”

[Desember 16, 2012 21:00]

Advertisements