Falsum Dichotomia

atas nama niat keji di ceruk hati orang alim
juga akal sehat di kepala orang-orang lalim
dengarkanlah kata-kataku kecuali kau ingin
jadi kayu yang terbakar, sebagian akan aku
bisikkan sebagai perkataan-perkataan yang
jauh menipu janganlah membuat kerusakan
bila kau tak mampu mengadakan perbaikan
mutlak bagimu percaya bahwa akulah setan
yang datang dengan penuh rendah hati lalu
mengaku kepadamu cuma memberi nasihat

waktu makin tua dalam penjara musim semi
pilihan pahit tawanan ialah diam atau berlari
dalam keagungan dan kerapuhan dunia luar
kelompok saleh dikutuk untuk menyesatkan
kelompok aneh disumpah meluluhlantakkan
tapi bau kamboja sampai juga ke balik langit
merambati rahasia-rahasia tentang mahsyar
sampai juga ke lahad bertanya-tanya hasrat
apakah peradilan puncak pencapaian derita
untuk orang-orang tak mendapatkan syafaat

[Agustus 05, 2013 00:35]

Mengganti Celana Jokpin

ini puisi, bukan yang
rajin meniru atau mencuri.
di perbatasan malam aku
berpapasan dengan Aspahani,
wajahnya milik sunyi.
dia berkata, “ini bukan
balas dendam atau balas
jasa, bukan pula sejenis
merebut perhatian. mungkin
memperalat, bisa dituduh merusak.”
lalu aku memulai.

“aku ingin membeli celana baru buat
jokpin supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan. sudah seratus model
celana di berbagai toko busana namun
tak kutemukan satu pun yang cocok
untuknya. di depan pramuniaga yang
merubung dan membujuk-bujuk aku
kerepotan memberi petunjuk, “aku
sedang mencari celana yang paling pas
dan pantas buat nampang di kuburan.”
celana yang bagus dan sopan, celana
yang bisa memberi fantasi berlebihan.
celana dengan raja kecil yang galak dan
suka memberontak; ada filsuf tua yang
terkantuk-kantuk merenungi rahasia
alam semesta; ada gunung berapi yang
menyimpan sejuta magma; ada gua
garba yang diziarahi para pendosa dan
pendoa; ada juga sebuah benua baru yang
ditemukan Columbus dan Stephen Hawking
khusyuk bertapa di sana.”

“akhirnya aku mendapatkan celana idaman
yang lama didambakan, meskipun untuk itu
aku harus berkeliling kota dan masuk ke setiap
toko busana. aku memantas-mantas celana itu
di cermin, “ini asli buatan Amerika!” kataku
kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca.
aku pergi juga malam itu, menemui jokpin yang
menunggu di pojok kuburan. aku pamerkan
celananya: “ini asli buatan Amerika!” tapi jokpin
tetap sewot juga: “bawa sini celanamu!”
pelan-pelan dipakainya celananya yang baru,
yang gagah dan canggih modelnya.
“Paskah?” tanyaku
“Pas sekali,” jawab jokpin
mengenakan celana dariku,
jokpin naik ke surga”

[Agustus 05, 2013 08:20]