Damaskus

bermula dari curam
sungai Bardi
piuhan siklon dalam
benih tiap elegi

kecuali suara-suara
berdering Nizar Qabbani

bagaimana lonceng-lonceng
makam suci
menandai hari-hari kelabu
sudah kembali?

[September 09, 2013 05:10]

Advertisements

Di mana Alamat Pasti

——— untuk Wiji

apa ada yang tercecer untuk ditulis selain tragika
cinta, kepedihan, stasiun kereta, awan senja, kesunyian,
aprikot jingga, rinai hujan, putik bunga, pelabuhan, dan
sejenisnya yang menggetarkan selera.
apa pemberontakan begitu tak akrab bagi pikiran
berlendir yang tertumbuk kesamaran hingga pencitraan
seolah memberi perlindungan dan perasaan aman dari
mitraliur ketidakadilan yang berlesatan.

kamar-kamar penuh manusia saling berjejal membaca
buku. sesekali mereka bertemu seperti kongres diaspora
menghasilkan kesepakatan subtil, memadatkan hal batil
menerapkan leksem-leksem yang cuma serius mengarah
ke pergulatan dirinya sendiri, tak cukup menjadi duri bagi
selera makan penguasa. apa ada gunanya bertanya; apa
guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa
gunanya menulis puisi kalau orang-orang terus menderita.

banyak orang percaya kau juga tertulah, mengubah jiwa
dari kelezatan menyatakan cinta, tapi hukum mana yang
lurus semua bengkok, duka makin matang bahkan busuk
semenjak kau tak pernah kembali, kelumpuhan jadi puisi
kemarahan tanggung menyentak penantian lupa ingat ini
tersedak di sebuah pengeras suara yang berulang-ulang
mengatakan, masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk pertanyaan: di mana alamat pasti bagi hilang & mati

[September 04, 2013 16:15]