Tentang Nol

kata-kata bosan juga beristirahat, tempat perlindungan adalah
tv statis, hiruk-pikuk berbagai bunyi sengau di sekitar lanskap
yang lembut, belum terselesaikan, tidak lebih dekat denganmu.
perpaduan hitam dan putih memisahkan kita seperti hambatan
dibangun antara emosi dan pengorbanan, engkau membungkus
keberadaanku, tetapi aku hampir tidak dapat menemukan bentuk
fisikku, sulit didefinisi apakah menengadahkan tangan termasuk
pengingat stabil bagi yang punya masalah identitas seperti diriku.

yang dilahirkan april separuh flamboyan separuh cendawan,
boleh jadi tidak punya ciri khas pendirian, tidak punya sikap
melekat, begitu banyak kata-kata, ingin merayakan dosa yang
senyap. di sisinya terbuka pengakuan yang amat berani, apa
puisi mesti lemah syahwat agar berahi bisa bertobat, sama sekali
tidak tahu mana yang sulit dijawab sulit diterjemah. ke mana
penjelasan yang sebentar datang tidak datang itu, di dalammu
kelegaan penuh simbolisme, mestikah dikaitkan ke dalam diriku.

satu bagian paling esensial dari drama hidup, sebiji zarah di dalam
semesta diriku telah menjadi nol, janji-janji menjadi nol, angka-angka
bergerak kembali ke nol, perayaan tiap tahun adalah nol, segala makna
identitas telah menjadi nol, segalanya tentang kau adalah nol. tinggal
aku sendiri mengundur hanya mengundur, selain mengharapkan, kalau
tidak bagaimana menghadapi kengerian asal-muasal. tinggal aku sendiri
terkurung dan terkurung, selain memperjuangkan, kalau tidak bagaimana mendapatkan kesempatan mempengaruhi keacakan jalan pikiranku.

[April 17, 2017 05:15]

Advertisements

Magdha

perpisahan begini memang tak tertanggungkan
saling menangkap jerit senyap kesalahan
dalam marah tidak transparan
dalam diam pura-pura merelakan

di Victoria yang dingin
kenangan sudah menjadi angin
maskara pecah ke dalam waktu
menyumbat detak jantungmu

semua persepsi mungkin kerangka
ketidakterhubungan jatuh cinta
sungguh–pertemuan tidak sia-sia
tapi tidak kembali ke bentuk semula

sebab beban muram adalah kekhilafan
mesti diterima sebagai bukti penting
bagi duka cita dan bahaya keikhlasan
menjadi jerit lain–senyap yang lengking

[April 17, 2017 03:15]

Sehabis Payung Teduh

konser ini, adalah perlintasan sebidang gelap dan sadar, kau datang dari mimpi semalam membawa kabar, butiran pasir terbang ke langit membunuh bulan, ada yang mati menunggu sore menuju senja, anak rambutnya tercelup kabut, punggung telapak tangannya penuh garis-garis keriput, pelan-pelan menembus sejarah hening.

konser ini, adalah keputusasaan tahap awal pilu dan amarah, kita berdua di antara kata yang tak terucap, menanti kedatangan apa pun, mengingkari janji semua selesai, limbung sendiri pada sepi dan panjang lorong melankoli, kita adalah sisa-sisa yang tak diikhlaskan, tidak mampu menguasai diri, perlahan-lahan menguning.

[April 17, 2017 01:15]